Bipasha Basu - Dalam film pertama yang dirilis penghujung 2009 ini, sutradari Amit Virmani ini berkisah mengenai kehidupan para pemuda Bali yang dikenal dengan julukan ‘Kuta Cowboys’.
Kisahnya, mengekspos para pelancong perempuan yang mencari kehangan dan cinta, serta pertemanan dari pria lokal. Berlatar belakang matahari tropis, pantai pasir putih, selancar dan semuanya menutupi lifestyle yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Dalam film tersebut, terdapat pengakuan para Kuta Cowboys sendiri. Mereka menjajakan seks tanpa memungut biaya. Berbagai cara dan trik mereka lakukan untuk menarik perhatian turis perempuan. Padahal, modalnya hanya fisik sawo matang khas Indonesia dengan bahasa Inggris pas-pasan.
Beberapa turis dalam film itu mengakui, menjadi Kuta Cowboys bukanlah gigolo dan yang mereka tidak melakukan kesalahan. Terlihat jelas, turis sudah terpikat sosok para pemuda Bali ini. Bahkan beberapa pengamat dalam film ini mengagumi para cowboys yang bisa begitu mengerti sosok perempuan.
Kegembiraan merupakan kuncinya. Para turis dalam film ini mencari sesuatu untuk membuat hidup mereka lebih terasa atau dengan kata lain melengkapi diri. Uniknya, beberapa dari para cowboys ini telah beristri. Salah seorang istri di film berkata tak keberatan jika suaminya tak pulang sehari-dua hari untuk menemani ‘tamu’.
Apa yang dilakukan cowboys, tak melulu soal cinta dan uang meski selalu ada ‘transaksi’ antara kedua belah pihak. Amit menyentil penonton dengan baik, mengenai ungkapan men providing love for sex and women providing sex for love.
Kisahnya, mengekspos para pelancong perempuan yang mencari kehangan dan cinta, serta pertemanan dari pria lokal. Berlatar belakang matahari tropis, pantai pasir putih, selancar dan semuanya menutupi lifestyle yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Dalam film tersebut, terdapat pengakuan para Kuta Cowboys sendiri. Mereka menjajakan seks tanpa memungut biaya. Berbagai cara dan trik mereka lakukan untuk menarik perhatian turis perempuan. Padahal, modalnya hanya fisik sawo matang khas Indonesia dengan bahasa Inggris pas-pasan.
Beberapa turis dalam film itu mengakui, menjadi Kuta Cowboys bukanlah gigolo dan yang mereka tidak melakukan kesalahan. Terlihat jelas, turis sudah terpikat sosok para pemuda Bali ini. Bahkan beberapa pengamat dalam film ini mengagumi para cowboys yang bisa begitu mengerti sosok perempuan.
Kegembiraan merupakan kuncinya. Para turis dalam film ini mencari sesuatu untuk membuat hidup mereka lebih terasa atau dengan kata lain melengkapi diri. Uniknya, beberapa dari para cowboys ini telah beristri. Salah seorang istri di film berkata tak keberatan jika suaminya tak pulang sehari-dua hari untuk menemani ‘tamu’.
Apa yang dilakukan cowboys, tak melulu soal cinta dan uang meski selalu ada ‘transaksi’ antara kedua belah pihak. Amit menyentil penonton dengan baik, mengenai ungkapan men providing love for sex and women providing sex for love.